Rabu, 21 Desember 2011

Hujan Sore Ini

Hujan lagi sore ini...
Semakin menegaskan apa yang tengah dirasa.

Gamang...

Pertikaian yang terjadi dalam diri semakin membuatku tak berdaya
Rasanya ingin melompat dan melayangkan segenap sayatan-sayatan yang terlukis di tangan
Belum jua aku berdiri,
hanya berjuang melawan tak tersampai

Mengalun irama syair berderu dengan badai itu
Biar hanya menghempas sekali dalam satu waktu,
Namun remuk riak yang terlihat jauhlah sampai disitu.

Jumat, 16 Desember 2011

:-)

Hidup tak berakhir hanya dengan berakhirnya hubungan kita,
Hidupku hanya berakhir ketika Tuhanku tak mau lagi mengijinkan jantungku berdetak.
Aku masih percaya pada Tuhanku, hingga kini aku masih tetap berdiri disini.
Berusaha untuk tetap tegak memandang kedepan,
Berusaha untuk kembali meneruskan langkah yang sempat tertunda.

Hidup tak berhenti dengan perginya dirimu.
Hidupku hanya berhenti ketika Tuhanku meminta ruhku untuk meninggalkan ragaku.
Tapi Dia masih percaya padaku, hingga kini aku masih bertahan disini.
Berusaha untuk menata kembali hidupku,
Berusaha untuk menentukan arahku.

Mencintaimu adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki,
Pemberian Tuhanku yang sangat berarti.
Tapi kehilanganmu merupakan nikmat dari Tuhanku,
Satu teguran untuk mengingatkanku pada dosaku,
Mengingatkanku untuk kembali di jalanNya.

Terimakasih telah sempat singgah dalam hidupku,
Memberiku bahagia walau hanya sekejap,
Dan memberiku satu pelajaran berarti untuk masa depanku.

Sampai saat ini aku masih selalu berusaha tersenyum,
Mensyukuri semua yang telah Tuhan berikan padaku ,
Mensyukuri pertemuan kita…

Rabu, 14 Desember 2011

Hanya untuk Sebuah Nama

Hanya untuk sebuah nama,
Yang tak pernah sempat membuka mata
Yang tak pernah sempat hembuskan nafasnya didunia.

Hanya untuk sebuah nama,
Yang tak sempat dikenal orang
Yang tak terakui kehadirannya.

Hanya untuk sebuah nama,
Yang telah berjuang tuk bertahan
Tapi sayang tetap saja ia terlewatkan.


Maaf…
Hanya kata itu yang terdengar dari bibir ini berkali-kali. Tak terasa setetes demi setetes air mulai mengalir dari sudut mata. Mulai membasahi mukena yang masih kukenakan setelah menunaikan kewajibanku. Dengan masih bersimpuh menghadap pada Tuhanku, aku mulai terisak. Merasakan dada yang sesak karena sebuah rindu. Rindu pada sebuah nama yang belum sempat terjamah. Rindu pada sebuah nama yang telah kutinggalkan beberapa waktu lalu..

Dia pasti sedang tertidur pulas disampingku saat ini. Suara tangisnya pasti terdengar saat dia terjaga lapar. Tawanya pasti juga terdengar ketika ia ditimang. Andai saja waktu itu keegoisanku bisa ku buang. Andai saja waktu itu ketakutanku bisa ku redam. Andai saja... Yah, andai saja..
Segala rasa bersalah dan penyesalan pun mulai kembali menyelimutiku..

Yaa Allah…

Dan aku hanya mampu tertelungkup diatas sajadahku..

Rabu, 07 Desember 2011

Entah apa

Terlihat untuk sesuatu yang kebetulan, dan sungguh itu menimbulkan satu tanda tanya yang sangat besar.
Terdiam hanyalah yang dapat aku lakukan saat ini.
Mencoba sejenak berpikir sendiri untuk menuliskan sebuah jawaban,
tapi kosong...
Benar tak tau apa dan kenapa.
Mungkin jika ada satu clue yang kemudian kembali terungkap, akan muncul satu titik cerah dimana aku bisa mencoba menebak, menerka, meraba.
Namun terlalu beresiko.. Benar-benar tak terjawab...

Berhenti dan kemudian terdiam lagi. Aku masih ingin mencari tahu, hanya saja terselip sedikit rasa takut jika yang ku dapat nantinya adalah sebuah hantaman pisau tajam.
Jika kutinggalkan, rasa ingin tahuku juga pasti selalu bergelayut pada leherku.
Terdiam, benar-benar terdiam..
Namun kemudian kulangkahkan kaki perlahan mulai meninggalkan pertanyaan itu disana.

Kutepis jauh-jauh pikiran yang tak mulai tak tentu arah ini. Pelik.. Menyerah buan satu pilihan, namun pergi pun bukan sebagai tanda menyerah. Karena aku masih akan berada disini. Hanya saja aku sedikit memalingkan pandangan, hanya untuk sekedar menepis rasa tak menentu yang perlahan datang.

Pergilah..
Aku tak ingin disini kau melihatku tersenyum tanpa ketulusan. Aku hanya sedang bingung. Membingungkan apa yang ingin ku tatap untuk kedepanku? Aku hanya sedang memikirkan diriku sendiri. Dan aku terkesiap ketika kau benar-benar pergi..

Kembali terdiam..
Menoleh pada jalan yang telah kulalui tak juga memberikan satu jawaban mengapa aku berada disini sekarang. Memintal seluruh kenangan yang kukenakan sebagai selimut untuk berlindung dari dinginnya hawa disini. Dan sepertinya itu adalah satu kesalahan besar karena jalanku tak terlihat tertutup oleh selimutku...

Sabtu, 03 Desember 2011

Kembali

Dan harus kembali terhempas ketika perlahan kepingan ini dikumpulkan....

Dengan susah payah aku memungut kepingan hatiku ketika kau datang. Membantuku memungutnya, dan menuntunku yang berjalan tertatih dengan sebelah sayapku. Menyusun kembali berusaha membuatnya utuh dengan senyumanmu...
Perlahan kau tempelkan satu persatu dengan kepercayaan yang kau tanamkan. Dan selalu berusaha membuatku tersenyum dengan mata itu..
Tapi ketika aku mulai menerbitkan senyumku, ketika aku mulai melangkahkan kaki bersamamu, tiba-tiba kau lepaskan penganganmu, kau banting kepingan hatiku dan kau hempaskan lagi aku dalam jurang yang itu. Jurang tempat kau menemukanku... Jurang dimana sebelah sayapku tergeletak pasrah..

Dan membuatku benar-benar linglung. tak tahu apa yang harus aku lakukan...