Malang, 2 Februari 2012
Dear Mr. dan Mrs. Hujan....
Tetesanmu yang tiap hari mengisi masuk dan terus merambah kedalaman tanah tak jemu merasukkan pula setiap tanya dalam kepalaku. Mengapa kau tak lekas berhenti menyusup keluar dari pori-pori langit? Ada apakah disana hingga kalian ingin saja turun ke bumi tempatku berpijak? Aku loh malah sedang mencari toko penjual sayap agar aku bisa membumbung bersama butiran laut yang terbawa keatas sana.
Kira-kira aku boleh menumpang pada sinar matahari nggak ya?
Mr. dan Mrs. Hujan. Jujur ya, jika kalian tak datang aku merasa rindu. Rindu akan riuhnya nyanyian-nyanyian malaikat yang turu bersamamu. Aku mohon, jadikan aku penumpang gelap. Biar aku bisa menyusup diantara para malaikat. Toh aku juga malaikat, hanya saja aku tak bersayap. Boleh kan?
Genangan sore ini menyisakan kau untuk dinikmati. Namun terkadang merupakan cipratan yang sedap pun tidak. Aku lebih senang melihat kalian bersama malaikat-malaikat kecil itu. Ramai namun lebih terasa lembut. Mereka lebih berhasil mengangkatku hingga beberapa jengkal sampai aku tertawa. Tak seperti prajurit perang berbaju zirah yang sering datang dengan keangkuhan komando petir. Mereka menakutkan, juga menyakitkan... :(
Mr. dan Mrs. Hujan, tolong sampaikan ke Tuhan ya, aku ingin bersama kalian. (^_^)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar