Datang, pergi, datang, kemudian pergi lagi...
Hidup itu tak semudah air mengalir saat musim penghujan.
Masih banyak penyumbat-penyumbat yang perlu segera dibersihkan.
Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Itu artinya aku harus kembali ke kantor dan menunggu waktu rapat mingguan tiba. Tapi entah mengapa, berat sekali rasanya hati untuk melangkah. Yang ku lakukan justru memasang earphone kemudian memanggil satu kontak telepon di ponselku.
"Mas jadi pulang?" tanyaku.
"Adek jadi ikut?" suara di seberang sana balik bertanya.
"Pengen. Tapi kan adek nggak libur," jawabku segera.
"Ya trus gimana? Kalau adek mau ikut, hayuk," dia ikut menjawab.
"Tapi aku kerja," jawabku lagi dan disusul dengan isak tangis perlahan.
"Halo, dek, adek kenapa? Kok nangis?" tanyanya kebingungan.
TAngisku makin menjadi. Aku makin mencercau dan semakin terisak. Aku bingung....
Ini kebiasaan buruk. Ini sering terjadi saat aku mulai merasa jenuh. Saat aku nggak kuat lagi membendungnya dan nggak bisa mengelus diri sendiri untuk bersabar.
Aku sedang berkutat dengan semua ketakutanku. Entah mengapa tiba-tiba hari ini aku menjadi teramat takut melakukan segala sesuatu. Takut mengambil langkah. Takut salah arah. Takut...
Padahal beberapa waktu lalu aku berhasil menjadi motivasi untuk diri sendiri. Aku berhasil membuat diriku sendiri bersemangat dan selalu positif. Tapi kenapa sekarang...
Ah entah lah... Aku masih lelah berpikir. Walaupun aku tahu yang aku rasakan ini adalah jenuh, bukan lelah dengan hidup, seperti dulu.
Tuhan, aku tahu engkau Maha Mendengar. Engkau Maha Penyayang. Aku berlindung di pelukanMu yaa Allah, dari segala ketakutanku.
Hidup itu tak semudah air mengalir saat musim penghujan.
Masih banyak penyumbat-penyumbat yang perlu segera dibersihkan.
Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Itu artinya aku harus kembali ke kantor dan menunggu waktu rapat mingguan tiba. Tapi entah mengapa, berat sekali rasanya hati untuk melangkah. Yang ku lakukan justru memasang earphone kemudian memanggil satu kontak telepon di ponselku.
"Mas jadi pulang?" tanyaku.
"Adek jadi ikut?" suara di seberang sana balik bertanya.
"Pengen. Tapi kan adek nggak libur," jawabku segera.
"Ya trus gimana? Kalau adek mau ikut, hayuk," dia ikut menjawab.
"Tapi aku kerja," jawabku lagi dan disusul dengan isak tangis perlahan.
"Halo, dek, adek kenapa? Kok nangis?" tanyanya kebingungan.
TAngisku makin menjadi. Aku makin mencercau dan semakin terisak. Aku bingung....
Ini kebiasaan buruk. Ini sering terjadi saat aku mulai merasa jenuh. Saat aku nggak kuat lagi membendungnya dan nggak bisa mengelus diri sendiri untuk bersabar.
Aku sedang berkutat dengan semua ketakutanku. Entah mengapa tiba-tiba hari ini aku menjadi teramat takut melakukan segala sesuatu. Takut mengambil langkah. Takut salah arah. Takut...
Padahal beberapa waktu lalu aku berhasil menjadi motivasi untuk diri sendiri. Aku berhasil membuat diriku sendiri bersemangat dan selalu positif. Tapi kenapa sekarang...
Ah entah lah... Aku masih lelah berpikir. Walaupun aku tahu yang aku rasakan ini adalah jenuh, bukan lelah dengan hidup, seperti dulu.
Tuhan, aku tahu engkau Maha Mendengar. Engkau Maha Penyayang. Aku berlindung di pelukanMu yaa Allah, dari segala ketakutanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar