Kamis, 31 Oktober 2013

Special Wishes

Jangan menikah karena cinta.
Tapi cintailah orang yang kau nikahi.

Begitulah kira-kira yang terlintas dalam kepalaku saat ini ketika melihat dua anak manusia yang baru saja di satukan dalam ikatan yang resmi hari ini.

Dessy Azizzah dan Arok Mamba

Dua orang yang mungkin kemarin terkenal sebagai player karena sering sekali berganti pasangan. Pasangan yang mungkin kemarin dicibir dan dipandang sebelah mata karena manusia memang tidak sempurna.
Tapi ketika keduanya meyakinkan diri masing-masing untuk menyempurnakan agama mereka dalam suatu pernikahan, subhanallah... Saya yakin tidak ada seorangpun yang berani berkomentar negatif sekarang. *senyum*

Terbanglah kawan, terbanglah tinggi. CIta-cita kalian sebagai pramugari/a sudah tercapai. Mimpi kalian untuk menikah sudah terpenuhi. Pasti masih banyak lagi yang ingin kalian raih kedepannya...

Saya tidak iri, em.. yah... sedikit sih. Saya sudah berencana sejak dulu, tapi terus-terusan hanya rencana. belum ada keberanian yang mantap untuk mewujudkannya seperti kalian berdua.

Terus terang saat ini saya mulai bertanya-tanya, sebenarnya jodoh itu apa? Apakah jodoh itu benar seseorang yang kita perjuangkan dan kita pertahankan mati-matian? Apakah jodoh itu benar bisa kita tebak dan kita perkirakan? Ataukah jodoh itu akan datang tiba-tiba dan sama sekali tidak memberi ruang untuk berkedip sekali saja?

Entahlah..

Sepertinya saya mulai jengah dengan kata jodoh, menikah, dan cinta.

Mungkin berjalan sendiri memang lebih tepat untuk diri saya saat ini. Memperbaiki diri dan fokus pada target pribadi.

Yang jelas, selamat kawan. Semoga pernikahan kalian penuh keindaham. Kalaupun tidak, tapi hati kalian selalu ditaburi kesabaran dan kekuatan untuk tetap merasakan setiap hikmah dibalik lipatan yang belum tersampaikan.

Minggu, 27 Oktober 2013

Bila: Catatan Seorang Pengembara

"Cinta sejati tidak akan pernah mati oleh waktu. Dia akan menunggu meski harus membeku." -Aishiteru-

Tahun depan usiaku sudah seperempat abad. Tapi aku masih saja bodoh dan labil. Perjalanan hidup ini tidak juga membuat kedewasaanku melesat cepat. Hanya berubah 1 cm demi 1 cm.

Ketika aku butuh seseorang, almarhum kakakku adalah salah satu tempat curhat yang andal. Berkali-kali aku mengatakan padanya semua keluhanku terutama tentang cowok.

"Mas, aku punya gebetan, dia bla bla bla bla..."
"Mas, aku sudah jadian, kami bla bla bla..."
"Mas, pacarku kok bla bla bla..."
"Mas, aku udah putus, dia bla bla bla..."

Tidak jarang pula dia mendengarku menangis di sela-sela ceritaku. Bosan sih tidak, tapi dia kesel. Sebel mendengar adikknya selalu menangis, selalu sedih, selalu galau. Bahkan sampai sempat terucap sesuatu yang membuat aku syok.

"Jangan sampai aku yang menikahimu. Kalau kamu terus-terusan sedih begini, lama-lama aku yang akan menikahimu. Aku serius!" celetuknya.

Aku tahu itu tidak dia ucapkan karena dia menyayangiku lebih dari seorang kakak, dia hanya teramat menyayangiku karena adiknya ini sangat bodoh dan tidak bisa mengambil langkah sendiri.

******

"Hidupmu tidak pernah lepas dari dua lelaki," kata salah satu seniorku di organisasi saat melihat garis ibu jariku yang membaginya menjadi 4.

Benar juga. Setelah aku pikir-pikir, sejak pertama aku punya pacar, selalu saja ada laki-laki lain yang dekat denganku. Meskipun tidak semua karena perasaan cinta, tapi semuanya pasti dekat denganku melebihi seorang teman. Salah satunya almarhum kakakku yang aku ceritakan di atas. Posisinya sangat spesial buatku, meskipun dia hanya seorang kakak. Tapi nggak semua orang bisa berpikir waras kan?

******

Sekarang aku lelah... Mungkin bisa dibilang mulai sadar.
Aku pernah dekat dengan seseorang. Dia berhasil membuatku galau. Menuju sempurna, mengerti, sangat mengerti...
Namun aku sadar, cinta itu tidak harus selalu datang dari seseorang yang baru. Bahkan mungkin cinta sejati datang dari masa lalu.



Selasa, 01 Oktober 2013

Beloved

Saat rindu tapi tak bisa sama sekali bertemu.
Saat sendu tapi hanya bisa melihatmu terbujur kaku.

Aku selalu bertanya pada Tuhan, kenapa Dia selalu mengambil orang-orang yang aku sayang
Kenapa Dia selalu memanggi orang-orang baik lebih dulu
Aku kapan? Tidak cukup baikkah aku di mata Tuhan?

Tak pernah sedikitpun aku curiga,
Tak pernah sedikitpun aku merasa kamu akan pergi
Tanpa satupun pesan untuk pamitan

5 bulan sudah kamu terbang ke surga bersama Tuhan
Tapi kenapa justru aku baru tau?
Kenapa tak seorangpun berusaha memberitau?
Kenapa semua orang membiarkan aku seperti orang bego yang berusaha mengirimu sms dan telepon tanpa tau kamu sudah tenang di duniamu?

Terbaik yang aku punya
Tersayang yang aku cinta
Meskipun mungkin tak pernah terlihat
Namun kamu selalu menjadi yang terbaik
Selalu menjadi tempat cerita

Semoga kamu tenang di sana
Semoga kamu bisa tersenyum di sana
Semoga Tuhan memberimu tempat terbaik


I love you my beloved brothers...
I miss you so...

Whisnu Candra Bagus Nugraha 11/09/1995 - 12/01/2002
Nur Adhi Nugroho 20/10/1987 - 03/05/2013

Kamis, 08 Agustus 2013

Abu Biang Said: Happy Ied 1434 H

Allaahu akbar..
Allaahu akbar..
Allaahu akbar.....
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil hamd.

Takbir itu terdengar bersahut-sahutan diseantero kota. Percikan gembang api juga berkebyar di langit yang gelap. Di kota Jakarta..
Kendaraan tidak sepadat biasanya. Tapi malam takbiran banyak orang keluar untuk persiapan. Aku sendiri hanya berjalan perlahan setelah pulang dari kantor. Iya, aku masih terus bekerja. Begitulah..
Sesampainya di kost, aku hanya berkutat dengan laptopku yang suka sekali ngambek alhir-alhir ini. Menyebalkan. Menonton beberapa koleksi film koreaku jadi selalu terhalang. Ditemani dengan sebungkus kacang goreng, aku mulai berkutat dengan hidupku. Dan masih terdengar suara takbir diluar sana. Perlahan, bibirku juga melantunkan takbir di kotak berukuran 3x3 itu.

Waktu terus berjalan, malam semakin larut, tapi mataku sama sekali belum mau terpejam. Di dalam kepala ini berputar dan berputar kenangan tentang seseorang di masa lalu.
Arrrrgggghhhhh!!!
Berkali-kali ku coba pejamkan mata, tapi tetap saja wajahnya terlintas. Akhirnya ku lempar bantal ke tembok dan kuteriak dalam diam.

Aku menyerah. Aku mencoba berbicara pada bayangannya dalam kepalaku. Aku mencercau. Aku menangis...
Bayangannya hanya diam, memandangku, tanpa kedip, dan sedikit tersenyum pada akhirnya. Bayangannya memelukku, erat. Dan aku semakin terisak. Kemudian dia pergi.

Akhirnya aku kembali sendirian. Samar-samar masih terdengar beberapa takbir di jauh sana. Mataku mulai berat, dan perlahan aku tertidur....

*************

Dering telepon membangunkan tidur nyenyakku. Waaaah, aku bangun kesiangan. Segera kuambil handuk dan berlari kekamar mandi. Pakai sabun, gosok gigi, dan cucimuka. Cuku aku rasa. Tanpa dandan, langsung ganti baju, sambar mukena, dan berlari ke masjid terdekat. Untung saja rumah kosku dekat dengat Rumah Allah.

Usai sholat, kembali lagi ke kosan. Jika tahun-tahun sebelumnya sungkem-sungkeman dengan orang tua dan yang dituakan di rumah, kemudian mudik ke rumah nenek seperti biasa, beda dengan tahun ini.
Usai sholat kembali ke kosan, rebahan, dan akhirnya ketiduran lagi. Sepertinya terlalu tubuh badan dan pikiran ini.

Tahun ini aku berdoa, begitu khusyuk pada Tuhan. Meminta. Semoga segera yang ku harapkan datang, karena rasanya sudah tidak mampu lagi aku bertahan.

Jumat, 02 Agustus 2013

Mood Jumping Freestyle

Pasti ku bisa melanjutkannya
Pasti ku bisa menerima dan melanjutkannya
PAsti ku bisa menyembuhkannya
Cepat bangkit, dan berpikir, semua tak berakhir disini


Hidupku sudah pernah hancur beberapa tahun yang lalu. Jiwaku sudah pernah mati saat itu.
Sejak dulu masalah sudah sering menghampiri. Makian, cacian, diremehkan, dicemooh, dihindari. Semua sudah pernah aku rasakan. Mau apa lagi?

Aku sudah pernah menurunkan harga diriku dan merelakannya untuk di injak. Aku sudah pernah lupa bahwa aku adalah seorang manusia yang patut dihargai dan disayangi. Yang aku tahu saat itu hanyalah apapun aku lakukan demi...

Aku manusia bebas. Aku tahu yang aku lakukan. Itu hanya sesuai prosedur. Lalu mengapa selalu saja dipermasalahkan?

Aku tegakkan kepalaku karena aku merasa benar. Sudah ku katakan sebelumnya, aku orang yang ceplas-ceplos dan bukan orang yang suka basa-basi. Akan ku katakan iya jika memang iya, dan tidak jika memang tidak. Jangan persalahkan.

Bukan berarti aku tak punya hati untuk berempati. Bukan berarti aku tak mampu simpati. Aku hanya akan merespon baik pada yang dibutuhkan baik. Tapi mengapa masih selalu saja dipermasalahkan...

Selasa, 30 Juli 2013

Bisikan Abu Biang

Bagaimana sebuah hati bisa menangis setelah mati?
Bagaimana bisa seorang maya menggambarkan sendiri hidupnya jadi nyata?
Aku bukan biduan tanpa raga. Disini aku masih mencari sebuah rumah untuk singgah dan kemudian berpisah.
Bagaimana bisa sebuah cinta datang tanpa ada rasa sempurna? Bukan kesempurnaan tanpa silang dan bersapa.
Aku hanya ingin menari dan menari. Menggugurkan setiap titik-titik jenuh pada air yang melimbah.
Bukan hati jika tanpa rasa memiliki pipihan batu nisan bersamanya untuk selama hancur. Cubitan perih berliar titian pintu sesama hati. Dia disini biar luka tanpa ada hati. Bila mati aku berdiri dan mengayuh tanpa henti.
Bagaimana bisa jika sebuah raga tak bernyawa membawa ribuan hampa dimata neraka? Aku berdiam dalam naungan segelas darah dibawah untaian titian pian.
Berjuang tanpa peluh membuah aku mengeluh bersama seduh dalam air mata keruh. Meninggalkan setiap asa yang tidur berselimut perasan asa biasa. Diam bukanlah suatu cara untuk berhenti berjalan sia-sia. Jika aku adalah peluh, aku akan bersetubuh dengan jingga agar tercipta jiwa yang binasa. Maukah kau menjadi pendamping hati yang tak bernyawa ini? Berlari diantara sebuah kepulan-kepulan asap yang bersahutan.

*************

Angin berhembus perlahan meniup serpihan-serpihan kecemasan tak beralasan. Diam tetap menjadi satu pilihan untuk nyaman dan bertahan. Sedikitkah aku bergandengan dengan tipuan mata sekejap ajaib bersama bintang kejora. Tutup mata dan berusaha berdiam. Tutup mata dan berusaha berlari. Tutup mata dan berusaha lupakan semua.....

Selasa, 16 Juli 2013

Sekejap Rasa

Lihat apa yang terjadi, dengan semua rencanaku,
Hancur semua berantakan..
Dia berjalan keluar dari lingkaran hidupku,
bebas ku lepaskan dia...

Malam ini lagu itu yang terdengar di telingaku. Menemani iseng-isengku di kantor. Iya, sekarang sudah lewat pukul 21.00 WIB. Tapi aku masih di kantor. Lumayan lah bertemu beberapa orang kantor dan melepas kesendirian. Walaupun orang-orang kantor juga pada sibuk di depan meja masing-masing, sedangkan aku sibuk ngisi blog dan buka beberapa akun jejaring sosial karena kerjaan sudah beres. *hihihi

Malam ini entah apa yang aku pikirkan. Tiba-tiba teringat pada seseorang dari masa lalu. Sedang apa ya dia sekarang? Nonton tv, online, atau main game seperti yang biasa dia lakukan dulu?

Aku masih mengingatnya. Tentu saja...

Meskipun sekarang sudah tidak ada artinya apa-apa, tapi setidaknya dulu dia pernah mengisi hari-hariku selama 11 bulan. Mungkin memang bukan waktu yang lama jika dibandingkan dengan yang pernah bersama lebih dari 9 tahun. Tapi arti dia untukku saat itu lebih dari 100 tahun.

Iya, saat itu...

Mungkin ada sekitar 1 tahun aku tidak mendengar kabarnya. Iya, pelan-pelan aku sudah bisa membiasakan diri untuk tidak kepo membuka akun facebooknya, ataupun facebook pacar barunya. Setidaknya aman untuk menenangkan diri.

Aku yakin perasaan untuknya sudah mati. Aku yakin sudah tidak berharap padanya lagi. Namun aku masih saja takut untuk kembali menjalin silaturahim. Aku takut jika aku masih belum bisa menguasai diri. Aku takut terpuruk lagi...

Tapi nanti suatu hari, aku pasti akan menemuinya. Menemui keluarganya. Nanti setelah aku sukses. Seperti janjiku pada Mamanya. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin membayar janjiku. Mungkin saat itu aku juga akan menyampaikan undangan pernikahanku.

Pasti.

Karena hidup harus berputar,
biarlah berputar...
akan ada harapan,
sekali lagi..
seperti dulu..

Selasa, 09 Juli 2013

Catatan Awal Ramadan

Hujan deras mewarnai malam tarawih pertama.
Semoga ini sebuah pertanda pelunturan dosa.

Welcome Ramadan!!!
Sebuah kalimat yang sedang in saat ini. Di status facebook, twitter, blackberry messanger, line, dan akun-akun jejaring sosial lainnya. Sms dan broadcast message permintaan maaf dan ucapan selamat pun mulai berdatangan tanpa diundang. Begitulah...
Salah satu euforia dari masyarakat Indonesia. Terkadang tepat sasaran, tapi tidak jarang pula berlebihan. *hela nafas*
Ini Ramadan pertamaku berada di tempat yang memang jauh dari orang tua. Lebih dari 700 km yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 12 jam menggunakan kereta api Bangunkarta, dan sekitar 1,5 jam menggunakan pesawat terbang. Biasanya paling jauh juga masih satu propinsi, yang bisa dilalui dengan beberapa jam saja menggunakan motor. Tapi kali ini berbeda...
Jika biasanya aku menyempatkan pulang ke rumah untuk sahur pertama atau buka puasa pertama bersama orang tuaku,kali ini aku tidak bisa. Aku memaksa diriku untuk menerima bahwa kami berjauhan. Aku akan sahur sendirian nanti. Iya, sendiri saja...
Beginilah...
Mengutip omongan mbak Soimah beberapa hari lalu, "Ini memang pilihan yang sangat berat sebenarnya. Tapi kan sudah niat, ke Jakarta untuk kerja. Jadi ya harus di jalani. Yang penting fokus kerja, nggak neko-neko, niat bener."
Benar memang. Kerja di Jakarta harus ekstra hati-hati. Harus bisa jaga diri. Harus punya niat yang kuat. Memang sih, Ibu Kota lebih kejam dari Ibu Tiri itu adalah statment yang salah. Totally wrong! Yang kejam itu bukan Ibu Kota, tapi sebagian besar penduduknya... *hela nafas*
Hingga 2 bulan aku berada di kota ini, sama sekali belum bisa menemukan seseorang yang bisa dipercaya dan membuatku merasa nyaman berteman dengan dia. Walaupun pada dasarnya aku adalah orang yang sangat susah percaya pada orang lain, tapi bukan berarti aku tidak mencoba. Aku sudah. Dua kali malah. Dan berakhir sama: ditusuk dari belakang. Padahal baru 2 bulan loh...
Lagi-lagi sebuah pembelajaran. Don't judge the books from the each cover. Sekarang sudah banyak teknologi moderen untuk membuat tampilan cover yang yahud. *opo ikiii*
Tugasku sekarang adalah memperbanyak istighfar. Membentengi diri dengan bacaan-bacaan tasbih. Selalu mengingat Allah. Karena di kota besar semacam Jakarta ini, banyak sekali hal-hal yang mudah menyulut emosi. Pantikan batu kecil saja sudah bisa membuat kobaran api besar. Belum lagi tidak ada orang-orang terdekat yang bisa mengingatkan. Jadi harus bisa jadi alarm bagi diri sendiri. *ndamoni ati*
Aku hanya berharap, semoga Ramadan kali ini benar-benar menghujankan berkah untukku. Perubahan diri, dan kabar baik dari rejeki. Aku masih ingi terus berjuang.

Sebuah lagu dari Sheila On 7 yang bertajuk 'Dan' versi akustik gitar mengiringi akhir tulisan ini.
Suara Mas Duta dan iringan petikan gitar Mas Eross benar-benar menghanyutkan.
Membawa rasa hati ke tepian...

Sabtu, 06 Juli 2013

Jenuh

Datang, pergi, datang, kemudian pergi lagi...
Hidup itu tak semudah air mengalir saat musim penghujan.
Masih banyak penyumbat-penyumbat yang perlu segera dibersihkan.

Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Itu artinya aku harus kembali ke kantor dan menunggu waktu rapat mingguan tiba. Tapi entah mengapa, berat sekali rasanya hati untuk melangkah. Yang ku lakukan justru memasang earphone kemudian memanggil satu kontak telepon di ponselku.

"Mas jadi pulang?" tanyaku.
"Adek jadi ikut?" suara di seberang sana balik bertanya.
"Pengen. Tapi kan adek nggak libur," jawabku segera.
"Ya trus gimana? Kalau adek mau ikut, hayuk," dia ikut menjawab.
"Tapi aku kerja," jawabku lagi dan disusul dengan isak tangis perlahan.
"Halo, dek, adek kenapa? Kok nangis?" tanyanya kebingungan.

TAngisku makin menjadi. Aku makin mencercau dan semakin terisak. Aku bingung....

Ini kebiasaan buruk. Ini sering terjadi saat aku mulai merasa jenuh. Saat aku nggak kuat lagi membendungnya dan nggak bisa mengelus diri sendiri untuk bersabar.
Aku sedang berkutat dengan semua ketakutanku. Entah mengapa tiba-tiba hari ini aku menjadi teramat takut melakukan segala sesuatu. Takut mengambil langkah. Takut salah arah. Takut...
Padahal beberapa waktu lalu aku berhasil menjadi motivasi untuk diri sendiri. Aku berhasil membuat diriku sendiri bersemangat dan selalu positif. Tapi kenapa sekarang...

Ah entah lah... Aku masih lelah berpikir. Walaupun aku tahu yang aku rasakan ini adalah jenuh, bukan lelah dengan hidup, seperti dulu.

Tuhan, aku tahu engkau Maha Mendengar. Engkau Maha Penyayang. Aku berlindung di pelukanMu yaa Allah, dari segala ketakutanku.

Selasa, 11 Juni 2013

Celotehan

Tahukah lagu yang kau suka,
Tahukah bintang yang kau sapa,
Tahukah rumah yang kau tuju,
Itu aku!

Mungkin kita nggak pernah merasakan bahwa apa yang dihadapan kita ini adalah yang terbaik. Begitu lah sifat manusia. Tidak pernah merasa puas. Tapi kadang heran dengan orang-orang yang selalu menjalani hidupnya dengan tenang. Seperti tanpa beban. Padahal, entah apa saja yang sedang dialaminya.

Bersyukur. Hanya itu kah? Sepertinya tidak.

Lalu seperti apa? Entahlah. Boleh survey dulu nggak?

Sepertinya mengamati, menganalisis, kemudian menulisnya itu menjadi seseuatu yang sangat asik sekarang. Mau lewat media apa? Apa saja deh. Kerjaan juga mewadahi kok. Tapi internet berkuota ini yang tidak merestuiku banyak mencari. Terbatas pada kuota. Mungkin seperti cinta anak pada orang tua ya?

Senin, 10 Juni 2013

Dia = Mood booster

Emosi, kemarahan, bad mood, capek?? Wajar.
Tapi nggak perlu lama, nggak perlu berlarut-larut. Nanti mukanya kusut.

Iya, seperti beberapa hari terkhir yang aku alami. Sebel sama kerjaan, merasa nggak diperhatiin pacar, capek dengan hidup. Akhirnya jadi sering uring-uringan sendiri dan kemudian nangis tanpa sebab.
Sebenarnya nggak butuh hal yang ribet sih. Hanya butuh teman bicara saja. Tapi kadang kebutuhan itu susah sekali terpenuhi, karena sudah benar-benar selektif memilih orang untuk berbagi cerita.

Moody. Agak susah sih mengontrol emosi. Hingga ada kesempatan untuk sedikit bersenang-senang. Dengan satu pikiran positif dan mencoba menuliskan kalimat positif dan mengirimkannya ke paccar yang sedang bikin manyun: "Nanti malam mingguan yuk..."
Alhamdulillah, suasana hati kemudian mejadi sedikit membaik. Ditambah lagi respon yang positif juga dari si penerima sms.
Berjalan lancar malam mingguannya. Sebenarnya hanya makan bareng dilluar, tapi kali ini di jam yang masih wajar, sekitar jam 9 malam (biasanya diatas jam 11). Kemudin jalan sebentar nyamperin salah seorang kawan dia. Yah, suasana ramainya malam minggu masih terasa lah...

Hari kedua manyun lagi. Ah, tapi entahlah. Ku rasa dia terlalu unik untuk bikin aku manyun lama-lama. Hanya karena sebuah kalimat yang disampaikan lewat bbm, aku langsung tertawa terbahak-bahak. Kemudian lanjut lagi jalan-jalan di jam yang sangat-sangat wajar. Jam 7 malam. Seneeeeeeeeng.... Aku jadi berasa menjadi manusia normal.. (^.^)

Diiringi dengan desakan yang membuat dia akhirnya menceritakan unek-uneknya. Oh God! Penutupan yang sempurna. Lagi-lagi sebuah pembelajaran. Buat aku, buat dia.

Ini adalah efek dari emosi. Efek positif tentunya.
Asalkan bisa menggiring kembali pikiran ke jalan yang benar, memandang dengan cara dewasa, introspeksi diri. Sepertinya aku akan sangat menikmati proses menuju sukses ini. Mendewasakan!


Terimakasih! (^_^)
Dia yang sering bikin manyun, tapi juga sekaligus tertawa terbahak-bahak.

Sabtu, 08 Juni 2013

Tentang Dia

Buat aku, dari dulu, cowok yang bawain ceweknya bunga itu keren. Cowok yang kasih kejutan kecil ketika ceweknya ulang tahun atau anniversarian itu so sweet banget. Dan kebetulan, aku cewek yang suka kejutan...

Pacarku...
Dia bukan orang yang romantis. Eh tapi romantis juga sih.. Eh, nggak juga...
Ah, tau ah.
Dia memang seperti itu..
Dia nggak pernah bawakan aku bunga, dia nggak pernah kasih aku kado, dia nggak pernah kasih aku kejutan. Iya, sama sekali. Bahkan ketika aku ulang tahun aja dia nggak hubungi aku selama 3 hari. (-_-")
Tapi dia dulu sering bikin aku meleleh dengan diksi-diksi yang dikirimnya melalui BBM.
Diksi-diksinya itu pula lah yang membuatku cinta pada bacaan pertama... (ceritanya kan gara-gara baca note dia)

Dia itu sabaaaaar banget. Selama beberapa kali pacaran (gini-gini aku dulu banyak fansnya.. hihihi) baru kali ini aku punya pacar yang sangat super duper sabar sekali. Hanya saja, aku sering kali mencoba menghabiskan kesabarannya dengan tingkahku. hehehe... Maap..

Dia selalu memandang segala sesuatu dari sisi positif. Bahkan ketika aku marah pun, dia melihat dari sisi positif. Kata dia, "Berarti adek makin sayang sama akunya."

Tapi aku tahu, dalam hati kecilnya pasti sempat terbesit kesel, marah, kecewa. Dia hanya berusaha berpikir positif saja. Meyakinan dirinya bahwa everythings gonna be ok. Dan hal itu yag ku sebut kebohongan.

Aku dan pacarku berbeda karakter. Aku orang yang ceplas ceplos dan tegas. Bilang iya kalau iya, bilang tidak kalau tidak. Sedangkan dia selalu berpikir dulu bagaimana baiknya. Akhirnya hal yang ideal yang diungkapkan. Itu pemikiran dia yang selalu positif.

Pernah berantem? Pastinya. Dua karakter yang aku sebut tadi kan hal yang sangat bertolak belakang. Tepatnya, lebih sering aku yang marah-marah dan kesel sendiri, dan dia tetap beranggapan nggak ada apa-apa. Niatnya biar akunya nggak makin marah. Bener sih, aku langsung diem. Iya diem, diem nggak mau ngomong sama sekali. hehehehe...

Tapi seru sih... Dengan begitu aku bisa belajar dewasa sekali lagi. Belajar menalar, belajar ikhlas, belajar syukur, belajar sabar, belajar mengartikan hidup dari sisi positif.

Sebenernya aku nggak tahu, apakah pacarku ini nantinya jadi jodohku atau bukan. Tapi yang jelas, semakin lama, sepertinya ada banyak hal yang harus dipelajari lagi. Dia nggak sesimpel yang aku tahu dulu, dan sepertinya akupun nggak sesimpel yang dia kenal dulu.
Aku rasa ini bukan karena kami yang semakin berubah, tapi mungkin karena kami menyelam semakin dalam. Semakin benar-benar berusaha mengerti satu sama lain. Sepertinya begitu..
Butuh proses untuk benar-benar mengerti seseorang, hingga akhirnya bisa menerima semuanya yang dimengerti secara tulus...

-Love you-

Jumat, 07 Juni 2013

"Aku Nggak Sedih Kok!"

Aku nggak sedih kok,
Ketika harus melihat satu per-satu teman seperjuangan bergandengan dengan mantan pacarnya dalam satu pernikahan.
Aku nggak sedih kok,
ketika berbalik ke kaca dan melihat diri sendiri yang masih begitu-begitu saja.
Beneran, aku nggak sedih kok!

Terdengar munafik nggak sih? Tapi bukankah memang begitu seharusnya?
Ikhlas, legowo, dan terus bersyukur dengan hidup yang tengah dihadapi.
Sulit sekali, benar-benar sulit sekali sebenarnya kawan. Tak jarang dari mata ini terus meleleh butiran-butiran bening, semkin lama semakin deras, tanpa seorangpun yang tahu. Hanya untuk mengurangi rasa perih, sah-sah saja kan?

Aku terus saja bertanya, kapan, kapan, kapan, dan kapan? Tapi semakin aku bertanya, semakin sakit saja rasanya. Mencoba untuk bahagia dan menjalani hidup dengan santai, ternyata nggak semudah itu kawan. Apalagi jika sudah ada satu trauma kecil dari pengalaman hidup sebelumnya. Bukannya nggak bisa move on, tapi disadari atau tidak itu menjadi satu bantu sandungan tak terlihat...

Hidup tidak untuk diratapi!
That's right. Tapi menangis itu bukan berarti meratapi kan? Bukankah semegah apapun langit tapi suatu ketika tetap saja menurunkan hujan. Iya, itu karena beban air di tubuh mereka sudah terlalu berat. Sama halnya dengan manusia kan?

Apa sih? Entahlah.

Kamis, 21 Maret 2013

Foto Trip to Bromo 2013

Lanjutan posting sebelumnya, aku janji memberikan penampakan indahnya "Surga yang bocor" itu. Dan... This is it!
Sayangnya hanya beberapa saja yang sepat diabadikan.





Lautan manusia membanjiri penanjakan Bromo untuk melihat sunrise




Sunrise Bromo yang sempat diabadikan




Mataharinya udah mulai muncul meski malu-malu (^_^)




Penampakan Bromo dari penanjakan. (Berurutan dari depan adalah Gunung Batok, Gunung Bromo, Bukit Telletubies, dan yang keliatan ujungnya menjulang itu Gunung Semeru yang ada di film 5cm)




Kawah Bromo dilihat dari bibir kawahnya. Sereeeeemmm tapi indah... (-_-")




Bibir kawah Bromo




Tangga naik ke kawah Bromo yang konon katanya berjumlah 250 anak tangga. Capek naik turunnya... ("-_-)




Padang ilalang yang indah... *prewed disini sepertinya seru juga :p *




Ini yang dibilang padang savana + bukit Telletubies. Mungkin karena bentuknya yang berbukit-bukit seperti dalam film kartun jaman baheula itu....


Bagaimana? Tertarik mengunjungi salah satu Surga di Indonesia ini??

My 24th

Duapuluh Empat...
Benar-benar angka yang nggak bisa dibilang sedikit. Pada angka ini benar-benar merasa tertampar dan malu melihat kondisi diri yang masih amburadul seperti ini.

Mengulas sedikit tentang detik-detik menjelang duapuluh empat itu.
Aku rasa Tuhan menjawab doa-doaku dengan cepat menjelang berkurangnya asa perjanjian hidupku denganNya. Karena aku rasa setiap bulan Maret di tiap tahunnya selalu banyak kejutan-kejutan indah yang Dia berikan padaku.

Misalnya tahun lalu. Menjelang 23th ku, aku mendapatkan banyak kesempatan untuk mengikuti tahapan-tahapan rekrutmen kerja. Yang kemudian pada akhirnya aku mendapat kesempatan untuk bekerja pertama kali, mencoba hal yang memang dari dulu aku inginkan. Menjadi wartawan. Ya! Kemudian impianku untuk liburan di Bandung terkabulkan. Meskipun tidak benar-benar liburan karena pada saat itu ada panggilan tes kerja disana, tapi itu menyenangkan!!! Seminggu di Bandung, seminggu di Lamongan, seminggu di Bandung lagi, dan kembali ke Lamongan. Benar-benar berasa hidupku ada di dua kota itu.

Tahun ini, menjelang duapuluh empatku, kembali Tuhan memberikan kejutan-kejutan indahNya padaku. Panggilan interview dan tes kerja bertubi-tubi. Titik terang dari jalanku kedepan mulai terlihat. Kemudian, hadiah-hadiah indah yang Dia titipkan pada ciptaanNya. Hal itu membuatku merasa istimewa!
Dua hari sebelum hariku (11/03/2013), ajakan mendadak untuk pergi ke "Surga yang bocor" (kata Mr. Junaedi Wien Tarmuloe) atau yang biasa kami sebut Bromo tak bisa kutolak. Meski tanpa persiapan dan bonek, akhirnya pergi ke tempat itu. Dan subhanallah... ternyata memang kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Mulai dari kepleset waktu mau jalan ke Mushalla, kesasar waktu mau ke penanjakan yang jadinya lewat jalan roadrace. Padahal ada jalan yang bener dan mulus. Gara-gara aku juga yang sotoy.. Hehehe... Belum lagi kami salah waktu, karena arakan ogoh-ogoh dari Bromo beranjak turun yang membuat kami berasa jadi orang bego. Mlongo, diam, terjebak di arak-arakan, dan kami melawan arus! *tepokjidat*
Hingga pada akhirnya kami sampai di pintu gerbang menuju penanjakan yang penuh orang karena disana ada pertunjukan Reog Ponorogo. Sebenarna sih niat pada awalnya, kami berangkat awal dan akan mencari penginapan di daerah Bromo. Hingga kami sampai di persimpangan jalan menuju penanjakan dan kawah, rombongan kami memutuskan untuk berhenti di satu-satunya warung yang buka untuk beristirahat. Setelah mengisi kembali hape dan perut yang kosong melompong, niat mencari penginapan kembali dilanjutkan. Unfortunetly, ternyata penginapan terakhir ada di kawasan pintu gerbang tadi. *tepokjidat lagi* Mau tak mau beristirahat di emperan warung itu jadi pilian, dan kebetulan ada perapian yang sengaja dibuat disitu. Yaaa, lumayanlah menghangatkan badan. Jadilah malam itu aku menggembel. *huft*

Tapi perjalanan itu benar-benar tak pernah mengecewakan. Di penanjakan, meskipun kabut dan mendung membuatku tak bisa benar-benar menikmati pemandangan sunrise Bromo yang terkenal awesome itu, tapi aku mendapatkan banyak kenalan baru. Foreigner from Thailand. Ngobrol ngalur ngidul, dan bangga dong karena aku disangka bukan Indonesian. hahahahah...
Saat matahari sudah bersinar ceraah dan Kawah Bromo ada didepan mata, rasa syukur pada Tuhan tak pernah berhenti terucap. Ini kali kedua aku ke Surga itu. Tapi perjalanan kali ini jauh lebih menyenangkan. Mengitari Gunung Bromo, berjumpa Segara wedi (Lautan Pasir. red) yang iasa disebut "Pasir Berbisik", kemudian padang savana, Bukit Teletubbies, dan mencoba jalur baru untuk pulang, jalur Tumpang, Malang. *foto-foto menyusul next post yak*

Setelah long journey, dan akhirnya aku kembali ke Pare, rumah keduaku, kejutan kedua kembali datang. Jam makan siang, ajakan menggiurkan untuk mengisi perut (padahal sebenarnya masih kenyang) aku terima. Dan betapa mengejutkan ketika tiga kuntum bunga favoritku, Mawar Putih, yang terbungkus rapi disodorkan ke arahku. Malamnya pun masih ada kejutan. Lagu "Happy Birthday" yang dinyanyikan bersama-sama, seonggok kue ulang tahun yang terlihat lezat, dan balon-balon (yang seharusnya) terbang diberikan padaku. WONDERFUL!!! So sweet sekali teman-temanku itu... *nangis terharu*
Tuhan memang tak pernah tidur... (^_^)

"Yaa Rabb, aku tak akan pernah lagi mengingkari kuasaMu. Sebenarnya semua hal yang aku minta dan aku butuhkan sudah Kau berikan didepan mataku. Hanya begitu kurang ajarnya aku yang tak pernah menyadari itu. Limpahan kasihMu yang tak pernah berkesudahan membuatku terlena didalamnya. Ampuni aku Allah..."

Rabu, 20 Maret 2013

Bintang, Aku Rindu

Aku sungguh merindukan masa-masaku kembali. Masa yang tertinggal jejak-jejak langkahku diantara timbunan lelah. Jejak yang penuh air mata sebagai pupuk merekahnya mawar. Oh Bintang... Aku rindu...

Kembali menitik.. Ini bukan pertanda buruk. Ini hanya pertanda alam akan datangnya malaikat rindu. Malaikat kebanggaan. Malaikat pengantar doa dan harapan. Dan kemudian aku bertanya padanya, akan sibukkah dia untuk singgah? Akan sempatkah dia singgah untuk bertandang ke hatiku?

Bulan kembali membuai dengan janji manis yang menggebu. Biasan kerlingnya mendatangkan seuntai senyum pada sebuah bibir ranum menggantung. Aku berjinjit mengintipnya dari lubang sebesar jarum. Dan aku melihatnya!!! Aku melihat senyum itu. Begitu indah...

Kura-kura tak pernah bertanya pada Elang, mengapa dia bisa terbang tinggi. Dia hanya mengepak, mengikuti gaya dan lenggangan elang. Tapi dia tak berhasil. Hanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Itu membuatku tertawa terbahak.

Rabu, 23 Januari 2013

Perempuan Tangguh

Perempuan Tangguh
Itu mungkin label yang sering diberikan oleh orang-orang disekitarku.
Aku. Perempuan. Sebagai satu-satunya perempuan dalam saudara sekandung.
Menjadi anak paling cantik bukan lantas membuatku dimanja oleh mereka yang ku sebut orang tua.
Sebagai anak pertama dengan adik yang berusia 12 tahun dibawahku membuatku punya tangung jawab yang tidak bisa dikatakan sedikit. Aku harus bisa menjadi anak perempuan sekaligus anak laki-laki bagi ibuku. Membantunya membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, dan melakukan pekerjaan rumah lain bagi perempuan.
Tapi aku juga harus siap ketika wanita yang telah mengandungku selama 9 bulan itu memintaku untuk mengantarnya kemanapun (baca: supir). Membawakan belanjaannya yang berat, atau membantunya memindahkan barang berat (baca: kulli). Semua pekerjaan laki-laki.
Dari situ aku berpikir, sebenarnya aku anak perempuan atau anak laki-laki, ataukan keduanya???
Tapi aku bersyukur, dengan semua hal yang diperintahkan oleh nyonya besar (baca: ibu) kepadaku membuatku bertumbuh menjadi gadis (atau pria?) yang mandiri dan tangguh. Aku terbiasa pergi kemanapun sendiri. Aku terbiasa melakukan apapun sendiri. Dan aku terbiasa menyimpan masalahku sendiri.
Harus berbangga atau bersedihkah?

Perempuan Tangguh
Sejujurnya tidak setangguh itu pula. Aku masih saja perempuan. Aku masih menangis ketika kurasa teralu berat beban yang aku tanggung. Kadang aku pun hampir merasa putus asa ketika terlalu penat udara yang aku hirup. Aku masih perempuan sewajarnya.

Namun kadang tidak ada yang mau mengerti dan tetap melihatku sebagai sosok yang mandiri. Memberiku kepercayaan seoah-olah aku bisa melakukannya sendiri. Membiarkanku sendirian seolah-olah aku begitu kuatnya karena aku terbiasa.

Aku masih perempuan normalnya..

Jumat, 18 Januari 2013

Question part II

Pernikahan..
Benarkah itu yang akan menjadi jawaban atas semua tanyaku Tuhan?
Bagaimana mungkin seorang perempuan yang masih gagal total ini bisa bertahan?

Mungkin sebuah teguran tak cukup untuk membuat kaki ini meangkah diatas duri. Dia sedang beraa nyaman dalam empuknya sandal.
Sebenarnya aku tak pernah berharap banyak. Hanya melihat wajah-wajah itu penuh senyum, aku rasa cukup.
Tuhan, Berikan aku jawaban...

Selasa, 08 Januari 2013

Question for God

Tuhan, pernahkah kau merasa lelah mendengar semua keluhanku?
Pernahkah kau merasa jenuh dengan cerita-ceritaku?
Beruntungnya aku Kau tak pernah seperti itu.
Tuhan, sebenarnya apakah rencanaMu untukku?
Mengapa Kau memberiku berbagai hal yang kurasa berat untuk ku hadapi?
Mengapa Kau selalu memberiku kesakitan kesakitan yang tiada henti?
Inikah hukumanMu Tuhan? Atau inikah bentuk rasa sayangMu padaku?

Hari ini debate topik di kelas membuatku tertampar. Membuatku kembali memutar memori yang telah ku tutup rapat. Tuhan... ternyata aku melupakan dosaku...
Tuhan, apakah aku masih sama?

Malam ini, seorang kawan lama menawariku untuk ikut diklat pelatih dalam lembaga pernafasan yang pernah aku ikuti. Padahal aku tak pernah lagi berlatih. Aku masih merasa sangat kotor untuk menjadi pelatih dalam organisasi yang sangat menjunjung tinggi nilai agama itu.
Apakah ini jawaban dariMu Tuhan? Apakah ini sebuah kesempatan yang Kau berikan padaku lagi untuk berubah?

Aku bingung...

Tuhan, mengapa aku tak pernah bisa membaca apa yang Kau inginkan?
Apakah aku terlalu sombong dan angkuh untuk itu?
Jika iya, ampuni aku Tuhan...

Beriku satu kesempatan untuk meyakinkan dulu semuanya Tuhan. Berikanku kesempatan untuk benar-benar memantabkan hati. Setelah itu, akan kuambil cahaya dari tanganMu...